Backpacking ke Gunung Lawu (1) : Unprepared Trip, Awal ‘Keseruan’

Rencana trip backpacking pendakian ke gunung lawu sebenarnya sudah didengungkan sejak lama. Aktornya pencetusnya ialah seorang teman yang  merupakan customer travel yang dahulu, GA.

Sejak kami (GA) tidak lagi menempatkan wisnus sebagai target market dan beralih ke wisman, maka ia pun memuaskan hasrat traveling nya dengan melakukan arrangement trip sendiri. Salah satunya ya rencana trip dia ke gunung Lawu ini. Kira-kira sebulan sebelum trip ia pun sharing mengenai rencananya. Saya tertarik gabung di trip ini, tetapi dengan satu syarat: Tidak mau direpotkan dengan urusan trip ini.

Ya untuk kali ini, saya ingin traveling untuk menikmati perjalanan. Butuh gunung untuk melepas penat dan menghilangkan kegundahan hati #tsah. Jadi tidak ingin direpotkan dengan urusan arrangement sana sini.

“Santai. Lo tenang aja. Gak usah urusin macam-macam”, ucapnya berusaha meyakinkan.

Memang sesuai janjinya, saya pun tidak perlu menyiapkan apapun. Tiket bus keberangkatan sudah diurusi olehnya, guide pendakian, perlengkapan camping, beserta logistik diurusnya. Rute & transportasi di Solo, juga spot destinasi di Tawamangu pun sudah ia riset. Lengkaplah sudah. Thanks bro!

Di hari H saking santainya, saya packing hanya beberapa jam sebelum keberangkatan. Dengan mengesampingkan badan yang sedikit flu, berangkatlah saya

“Mount Lawu is easy mountain. No need prepare anything. Just bring my personal belongings”, pikir saya

Semua sudah beres disiapkan olehnya. Apalagi hasil riset sekilas dari Mbah Google, baca di 1-2 Blog mengatakan bahwa Gunung Lawu sangatlah mudah. Medan trekking disana berupa tangga-tangga yang disusun rapi. Juga diatas puncak katanya sudah ada warung.


PERJALANAN MENUJU SOLO YANG MENYADARKAN

Setelah terpukau dengan kemegahan terminal bus PuloGebang (Welcome to The Biggest Bus Station in Southeast Asia) , sekitar pukul 16.00 WIB bus Raya yang kami tumpangi pun berangkat. Entah kemana tujuan akhir bus in namun yang pasti (karena hanya itu yang saya tahu!) : Kami akan turun di Solo.

Please don’t ask it to me, ask to my friends who arrange all about this trip 🙂

Ditengah perjalanan, bus pun berhenti untuk makan malam. Disana kami bertemu seorang pemuda yang ternyata akan ke Gunung Lawu juga. Sambil menikmati makan malam yang sesungguhnya tak begitu nikmat karena menu yang tersedia seadanya, kami pun mengobrol ngalur ngidul.

Dari ngobrol ngalur ngidul itulah saya tersadarkan.

Saya baru mengetahui bahwa untuk ke puncak Gunung Lawu terdapat 3 jalur yang bisa dipilih, yaitu (1) Jalur Cetho; (2) Jalur Cemoro Sewu; (3) Jalur Cemoro Kandang.

Si pemuda yang telah 2x mendaki Gunung Lawu itu untuk kali ini akan mengambil jalur Cemoro Sewu. Ia menjelaskan medan trekking di jalur ini berupa tangga bebatuan dengan trek yang pendek. Konon katanya, para pendaki lebih banyak yang memilih jalur ini karena memang lebih mudah dan lebih cepat, walaupun tingkat kemiringannya yang lebih tinggi.

Ya, jalur Cemoro Sewu sepertinya persis dan sesuai dengan hasil googling (sangat) singkat yang saya baca di 2 blog.

“Kalau mas lewat jalur mana?”, tanyanya

Tak lama, sang inspirator trip ini pun datang ikut ngobrol. Dia mulai menjelaskan soal jalur yang akan kami ambil ke pemuda tersebut.

Ternyata oh ternyata, kami mengambil jalur yang berbeda!

Kami akan mengambil jalur Cemoro Kandang yang ternyata jalur trekkingnya lebih panjang karena memutar dan berkelok-kelok. Medannya trekkingnya pun lebih berat karena masih alami.

“O..o.. I think it will be problem”, membatin dalam hati.

“Berapa lama bro trekkingnya kalau jalur itu?”, saya pun mencoba menggali informasi lebih jauh karena memang saya tidak tahu apa-apa mengenai planning dari perjalanan ini.

“Sekitar 6 jam trekking kalau normal”, ujarnya dengan muka datar tanpa dosa.

O..o..(again). And now I’m feel sure it will be a problem. Big problem’

 

“Traveling Tanpa Persiapan, Untuk yang Pertama dan Terakhir Kalinya”

 

Menyadari ada yang tidak sesuai dengan perkiraan awal dan parahnya tidak mempersiapkan diri akan hal itu, saya langsung berusaha mengingat-ingat persiapan apa saja yang lupa dilakukan.

Satu hal yang langsung teringat adalah: My body is not good enough. I got some flu. And guess what, i don’t bring any medicine!

Bahkan senjata utama yang selalu dibawa disetiap traveling yaitu Tolak Angin (iklan gratis. NGOKS! ) pun gak bawa!

Dengan segera saya pun membeli satu strip Decolgen (iklan gratis lagi!) dan memborong Tolak Angin yang hanya tersisa 3 buah di warung. Tengah malam saya minum decolgen dan tolak angin. Hope tommorow will be better.

Sekitar pukul 7 pagi kami tiba di Solo!

Dengan kepala sedikit keleyengan akibat minum obat tadi malam, kami menunggu bus umum yang akan membawa kami dari Solo ke Tawamangu. Syukur alhamdulillah flu sudah sedikit membaik, walau belum sepenuhnya sembuh. Tak lama menunggu, bus tersebut pun datang.

Perjalanan dari Solo ke Tawamangu cukup cepat. Sekitar pukul 8 kami tiba di Pasar Tawamangu, dan singgah di warung makan untuk sarapan. Akhirnya mengisi perut dengan santapan yang layak setelah makan malam dengan menu seadanya.

Sebelum meneruskan kembali perjalanan dengan mobil colt elf yang sudah menunggu, kami sempatkan untuk membeli beberapa bahan logistik di pasar tersebut.

Namun ternyata dari pasar Tawamangu tersebut kami tidak bisa langsung berangkat. Angkutan colt elf yang kami tumpangi ini menunggu penuh baru berangkat. Definisi ‘penuh’ nya pun sedikit berbeda. Definisi penuh versi Tawamangu adalah ‘meluber’ versi saya. Mobil Colt elf yang sesungguhnya berkapasitas normal max 13 orang, saat itu diisi oleh sekitar 21 orang. Pepet mang…!!!!! Belum luber belum asik…!!!!

Satu jam menunggu penuh akhirnya kami pun berangkat.

Dari Tawamangu ke Lawang Sewu tidak lebih dari 30 menit. Disana kami bertemu dengan 2 orang yang akan naik bersama ke Gunung Lawu, Mas Budi dan Mba Dina.

Dengan persiapan fisik yang sangat minim, tanpa pemanasan di hari-hari sebelumnya. Badan juga tidak 100% fit, ditambah banyak barang yang lupa dibawa. Belum lagi sama sekali tidak ada bayangan medan trekkingnya akan seperti apa (karena perkiraan sebelumnya bahwa medan trekking berupa tangga2 bebatuan ternyata bukan merupakan jalur yang akan kami lalui), saya pun hanya bisa mengatakan :

“Yes, i’m ready!”, dengan nada pasrah.

 

*Untuk Decolgen &  Tolak Angin jika ingin berterimakasih atas iklan dan ulasannya di blog ini, dengan senang hati saya bisa mengirimkan nomor rekening. Please go to Contact Page. Ditunggu transferannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *