Terminal Pulogebang : ‘Welcome to The Biggest Bus Station in Southeast Asia’

Packing dilakukan hanya 2 jam sebelum berangkat, dan saya siap berangkat! let’s go twobackpack(Unprepared Trip : A Prologue of The Backpacking to Mount Lawu)Keberangkatan bus yang telah dibeli tiketnya oleh teman saya adalah dari Jakarta. Jadi mau tidak mau saya pun harus ke Jakarta dahulu. Dari Bogor menggunakan Uber menuju Terminal Pulogebang.

Sebenarnya nama terminal ini agak asing ditelinga. Dan tampaknya hal yang sama juga terjadi ditelinga driver Uber ini

“Terminal Pulogebang dimana ya pak?” tanyanya.

Seorang driver taksi berbasis online, bersenjatakan HP ‘pintar’ dengan aplikasi ‘pintar’ bernama Google Map didalamya, masih saja menanyakan ‘dimana tempatnya’ ke penumpangnya?’ Betapa pintarnya..

Ingin rasanya menjawab, “Mungkin PULOGEBANG itu diantara PULO Gadung dan Bantar GEBANG pak. NGOKS!”.

Terpaksa dengan sabar membuka aplikasi Google Map di HP, dan saya infokan rute-rutenya. Sing sabar sabar sabar…

 

BANGUNAN MEGAH ITU ADALAH SEBUAH TERMINAL BUS

Terminal Pulogebang

Sekitar 2 jam perjalanan tibalah saya di Terminal PuloGebang.

Satu kata yang bisa diungkapkan ketika masuk ke area terminal bus yang asing di telinga ini adalah TAKJUB!

Entah karena norak, terlalu lama tidak backpacking bepergian keluar kota dengan bus umum, atau hal lainnya, tapi saya akui saya takjub.

Terminal PuloGebang tidak seperti bayangan saya sebelumnya. Ini terminal bus termegah yang pernah saya kunjungi. Bagaimana bisa Indonesia memiliki terminal bus semegah ini?!

Area Bus yang telah siap dinaiki penumpang

Sebenarnya disaat keluar tol sudah terlihat bangunan besar beratap biru itu. Namun sama sekali tidak menyangka kalau bangunan megah beratap biru itu adalah sebuah terminal bus. Saya pikir itu adalah sebuah stadion olahraga indoor atau sebuah gedung pertemuan milik swasta. Driver Uber pun berpikiran hal yang sama dengan saya.

“Besar ya pak ternyata terminal bus-nya”, sambil melotot ia memperhatikan kemegahan gedung terminal bus tersebut.

Bingung dengan pintu masuknya, saya pun membuka jendela untuk bertanya ke Security.

“Oh ya, bapak tinggal ke arah sana. Disana lobi masuknya”, ucap petugas security terminal sambil menjelaskan arahnya.

Awalnya saya dan driver tidak ngeh (sadar-red) dengan kata ‘lobi/lobby’ yang diberikan security tersebut. Sebuah kata yang sangat jarang saya dengar di sebuah terminal bus. Have you heard ‘Lobi terminal bus’?

Setibanya disana, keheranan saya pun terjawab.

Hmmm.. Oke pantaslah security itu menyebutnya dengan ‘lobby’, karena memang itu benar sebuah lobby. Yup lobby disebuah terminal bus.

Takjub semakin menjadi jadi ketika masuk kedalam terminal bus ini. Bangunannya memiliki konsep seperti sebuah mall. Bersih dan Full AC. Loket tiket semua operator bus tersedia disini dan semuanya berjejer teratur!

Bagian dalam Terminal Pulogebang

Terdapat ruang khusus istirahat driver. Keberangkatan bus ada di lantai 2 dan memiliki ruang tersendiri. Hanya orang-orang yang telah memiliki tiket sajalah yang bisa memasuki area keberangkatan. Sistem ini sudah seperti bandara atau setidaknya stasiun kereta. Yang paling membuat ‘Wow Moment’ adalah terminal ini memiliki eskalator! Juga lift!

Edun betapa noraknya saya. Baru kali ini melihat terminal bus di Indonesia yang punya eskalator dan lift! 😀

Namun sayangnya saat itu saya tidak menemukan toko di dalam terminal tersebut. Sepertinya memang belum ada yang membuka gerai toko di terminal tersebut. Saya pun belum sempat mengecek kondisi toilet disana, karena toilet/kamar mandi adalah cerminan karakter dari penghuninya.

Sedikit iseng bertanya melalui Mbah Google, saya dibuat semakin takjub. Walau sempat mangkrak di awal pembangunan pada era Gubernur sebelumnya dan peresmian yang molor dari perencanaan karena banyak hal yang tidak sesuai, akhirnya terminal ini pun menjadi terminal bus termegah di Asia Tenggara. Salut!

 

WHAT NEXT?

Bangunan terminal bus termegah di Asia Tenggara sudah terbangun. So, what next?

Selain membangun sistem yang terpadu, tantangan utamanya  sebenarnya adalah merubah karakter dan mental masyarakat sebagai pengguna terminal bus ini. Tidak mudah merubah karakter para user terminal bus yang sudah terbiasa dengan kesemrawutan, ketidakbersihan, dan ketidaktransparanan. Terlebih sarana transportasi ini melibatkan banyak sekali pihak, entah itu para petugas dinas perhubungan, para penumpang, sopir bus, dan para operator penyedia jasa transportasi darat ini.

 

Negeri ini Sedang Giat Membangun. Berusaha Mengejar Ketertinggalan

 

Berbeda dengan menata sarana dan sistem perkeretaapian yang dahulu digagas Pak Jonan. Saat itu ia cukup menata satu pihak saja, yaitu PT. KAI sebagai single player yang memonopoli industri ini.

Juga tidak seperti manata sarana bandara udara, yang walaupun terdiri dari banyak pemain, tetapi para pemain ini sudah terbiasa menerapkan standard baku operasional yang tinggi, level internasional.

Jadi yuk sama-sama kita dukung apa yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan dalam usahanya merevitalisasi sarana fisik, sistem, dan juga karakter/mental dari moda transportasi darat ini.

Belum selesai saya terkagum dengan Pulo Gebang, di hari terakhir kepulangan dari Solo ke Jakarta saya pun dibuat terkagum lagi dengan yang namanya terminal bus Solo, Terminal Tirtonandi. Tunggu postingan selanjutnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *