Pendakian Gunung Lawu (1)

Setelah bergelut dengan persiapan yang minim dan tersadarkan di Solo (Unprepared Trip : A Prologue of The Backpacking to Mount Lawu), sekitar pukul 10 pagi kami tiba di Pos Pendakian Cemoro Kandang. Bertemu dengan 2 teman yang akan bersama-sama mendaki gunung Lawu, Mas Budi dan Mbak Dita. Mbak Dita umurnya jauh lebih muda dari saya tetapi sudah aktif di pecinta alam sejak lama, sedangkan Mas Budi umurnya lebih tua dari saya dan ia bekerja di BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah). Ditengah persiapan trip yang sangat minim, kehadiran mereka berdua setidaknya mampu membuat hati sedikit tenang di pendakian gunung lawu ini

“At least, I hike this mountain with the right person”, saya membatin

Kami memulai trekking sekitar pukul 11.00 WIB. Menurut berbagai sumber, jika kami bergerak dengan kecepatan normal untuk menempuh 12 km jalur ini kami akan tiba di atas sekitar 7 jam kemudian. Itu artinya pukul 18.00 WIB kami akan sampai di camp site. Itupun dengan catatan kecepatan normal.

“Kemungkinan kalau kita cepat bisa tiba disana maghrib sekitar pukul 18.00-19.00 malam. Atau bahkan bisa lebih malam kalau kita lambat”, ujar Mas Budi memberikan penjelasan.

NGOKS! Ok no other options, i must ready!’

Dari Pos Pendakian Cemoro Kandang di ketinggian 1800 mdpl ke Pos I, jalur masih tergolong biasa-biasa saja dan cenderung landai. Sebelum tiba di Pos 1 ada sebuah jalur yang mengarah ke sebuah air terjun, namun mengingat waktunya yang terlalu mepet, tidak ada yang ingin kesana. Maybe next time 🙂

Sekitar 45 menit trekking ,tibalah kami di Pos 1 : Taman Sari Bawah dengan ketinggian 2,300 mdpl. Usai beristirahat sejenak disana, kami pun melanjutkan perjalanan. Dari Pos 1 ke Pos 2 medan sudah mulai berubah. Dari yang sebelumnya landai, sekarang menjadi lebih curam.

“Damn! I’m not prepared for this”, saya pun mulai merutuk.

Pos 2 : Tamansari Atas

Sudah lama gak olahraga, dan terakhir pendakian yang dilakukan adalah 2 bulan lalu itupun ke gunung yang sangat mudah: Papandayan!

Bersusah payah akhirnya tibalah di Pos 2 : Taman Sari Atas dengan ketinggian 2,470 mdpl. Saya lupa pastinya butuh berapa jam untuk sampai di Pos 2 ini. Namun yang pasti karena sudah masuk jam makan siang kami pun memasak di Pos ini.

 

Usai makan siang kami pun melanjutkan perjalanan. Medan trekking Pos 2 ke Pos 3 jauh lebih berat. Terlebih dengan pilihan jalur yang seringkali melakukan crossing (memotong jalur yang seharusnya memutar). Sumpah serapah dalam batin mulai bermunculan.

Saya yang biasanya selalu menggunakan porter dalam setiap pendakian mendampingi klien Klayap, kini harus mendaki tanpa porter. Tas gunung yang sesungguhnya masih dalam kategori ringan ini terasa sangat menyiksa. Ditambah tidak adanya persiapan fisik yang biasa dilakukan beberapa hari sebelum trip, membuat perjalanan Pos 2 ke Pos 3 semakin tersiksa.

Sepertinya niatan traveling untuk mengobati gundah gulana akan berhasil! Seluruh kekesalan ditumpahkan sebagai bahan bakar langkah demi langkah.

Saking beratnya jalur dari Pos 2 ke 3, diantara pos tersebut terdapat Pos Bayangan yang dapat digunakan sebagai tempat istirahat.

Akhirnya tibalah kami di Pos 3 : Penggik di ketinggian 2,780 mdpl. Rasa lelah yang teramat sangat, terobati di Pos ini. Cuaca saat itu sangat cerah dan gugusan awan saat itu sangat indah.

Kami menemukan spot foto bagus dengan memanfaatkan batang pohon yang menjulang tinggi. Maka jadilah foto pelipur lelah ini:

Puas berfoto-foto perjalanan pun dilanjutkan. Tak jauh dari Pos ini, sekita 100 meter, terdapat sumber mata air. Kami pun mengisi botol-botol kosong kami. Segarnya!

Medan trekking dari Pos 3 ke Pos 4 sebenarnya jauh lebih mudah. Dataran landai lebih banyak ditemui. Thanks God!

Namun karena saat itu hari sudah sore menjelang magrib, energi yang kini dimiliki pun hanya sisa-sisanya saja. Sebelumnya, longsor kecil dan pohon tumbang karena angin memang banyak kami temui sepanjang perjalanan, dan alhamdulillah masih dalam kondisi yang tidak mengganggu perjalanan.

Ketika Siapa Temanmu Traveling Menjadi Penting

Diantara Pos 3 dan Pos 4 kami mendapatkan sedikit masalah. Ada jalur yang terpotong karena mengalami longsor yang cukup besar dari atas. Kami sepertinya orang pertama yang menemukannya, setelah longsor itu terjadi. Jurang yang menganga disisi kiri kami memang cukup dalam dan minim pepohonan, membuat daerah ini rentan akan longsor. Akibatnya setengah sisi kiri jalur ini ikut longsor jatuh, menyisakan setengah bagian lagi yang kami tidak tahu apakah tanahnya cukup kuat untuk menahan berat kami saat melaluinya.

Longsor

Disaat seperti inilah, kamu akan tersadar mengapa memilih traveling partner yang tepat menjadi sangat penting. Beruntung ada Mas Budi yang bekerja di relawan BPBD, telah berpengalaman di kondisi seperti ini. Ia pun mengeluarkan sebilah sangkur (semacam pisau komando besar) dan mulai membabat semak belukar yang ada di sisi kanan kami. Ini dilakukan agar kami bisa berjalan di area yang lebih stabil (mepet ke sisi kanan). Ya beruntung sisi kanan area ini masih ada area yang tertutup semak belukar. Tak lupa diikatkan tali webbing disisi kanan untuk berpegangan jikalau tanah yang kami injak longsor kebawah. Amit amit #KetokKetokPala

Sembari menunggu ‘pelebaran jalur’ selesai dilakukan kami pun disuguhi pemandangan alam yang indah. Saat itu alam menunjukan kecantikannya, Sunset!

Sang matahari yang telah berwarna kemerahan perlahan-lahan turun dan menghilang di balik lautan awan. Disaat yang sama gunung merbabu dan merapi menunjukan kegagahannya. Ketika alam mempertontonkan keindahannya inilah seluruh lelah terasa terbayar lunas. It’s very beautiful. Perfect!

Sunset

Setelah melalui area longsor kami pun melanjutkan perjalanan. Berhubung sudah gelap, Pos 4 : Cokro Suryo di ketinggian 3,025 mdpl kami lalui tanpa berhenti lama. Kami langsung tancap gas melanjutkan perjalananan menuju Pos 5. Joss gandos!

Perjalanan dilanjutkan ditengah kegelapan. Dengan bantuan cahaya dari senter yang saya bawa, perjalanan dilanjutkan selangkah demi selangkah dengan energi yang tersisa.

Pos 4

Lagi-lagi kami beruntung, cuaca saat itu sangat mendukung. Angin malam yang dingin biasanya bertiup kencang ketika kita sudah mencapai ketinggian tertentu, namun saat sepanjang perjalanan di hari itu hal tsb tidak kami rasakan. Saya tidak perlu mengenakan jaket tebal, yang tentunya jika itu dikenakan akan membuat pergerakan semakin sulit, lebih menguras energi.

Sekitar pukul 21.00 PM kami pun tiba di Plang Pos 5 (Prapatan). Disini terdapat persimpangan. Jika lurus akan menuju ke Hargo Dalem dan jika ke kanan akan langsung menuju ke Puncak Hargo Dumilah.

Hargo Dalem adalah area yang biasa digunakan para peziarah melakukan ritualnya. Disana terdapat satu-satunya warung di Gunung Lawu yang terkenal : Warung Mbok Yem. Karena itulah area ini sering digunakan sebagai tempat singgah para pendaki. Jika tidak membawa tenda, kamu bisa menumpang tidur di warung yang memiliki area khusus untuk para pendaki ini. Warung inilah yang sering diulas di banyak blog, salah satunya blog yang saya baca sebelum berangkat.

“Oh ada warung diatas”; “Oh tersedia makanan disana”; “Oh bisa gak perlu bawa tenda, bisa menumpang di warung mbok yem”.

Oh..Oh inilah yang membuat saya begitu santai tanpa persiapan apapun. Akhirnya saya pun hanya bisa mengatakan: ‘Oh bodohnya saya’

Kelompok lainnya yang dari Kediri memutuskan untuk bermalam di warung Mbok Yem, mengingat hari telah larut malam dan beberapa diantara mereka sudah sangat kelelahan. Tidak sanggup untuk lanjut ke puncak.

Gemerlap kota Solo di malam hari

Namun itu tidak berlaku untuk kami. Ternyata Mas Budi memutuskan untuk lanjut, bermalam di Puncak, dengan pertimbangan saat sunrise tidak perlu bangun dini hari dan naik keatas trekking lagi.

Sebenarnya keputusan ini saya nilai terlalu memaksakan diri. Saya lebih memilih mendirikan tenda di Hargo Dalam, istirahat. Esok subuh baru bangun, taruh barang di warung Mbok Yem dan trekking ke puncak untuk mengejar sunrise. Tetapi berhubung saya di trip ini bukan sebagai koordinator yang mengatur jalannya trip, saya pun menjadi pengikut yang baik. Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan ke puncak.

Dari Prapatan ke Puncak medannya kembali menanjak. Umpatan kembali bergaung di benak. Namun keinginan untuk segara makan malam dan beristirahat menjadi pembakar semangat untuk melangkah selangkah demi selangkah.

Setelah skitar 1 jam trekking, kira-kira pukul 22.00 kami pun tiba di Puncak Hargo Dumilah. Segera kami pilih spot dan mendirikan tenda.

“Rekor yang terpecahkan : pendakian non-stop 12 jam”

Tenda telah selesai didirikan, saya pun merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Badan terasa gak enak. Perut kembung, gak enak, berasa ingin muntah. Penyakit kambuhan kayanya datang, masuk angin!

Untunglah masih ada tersisa 2 buah Tolak Angin yang saya beli  di Rumah Makan saat bus transit kemarin. Dan untunglah Mbak Dita membawa balsam untuk menghangatkan perut. I don’t bring any medicine!

Camp site

Makan malam yang sebelumnya sangat saya nantikan, kini menjadi hal yang paling tidak saya inginkan. Saya hanya makan beberapa sendok agar perut ini tidak semakin parah. Sekitar pukul 00.00 tengah malam saya pun langsung masuk ke sleeping bag. I hope i can sleep well.

Tapi sayangnya harapan itu tidak terwujud. 1 jam saya terlelap tetapi kemudian pukul 01.00 dini hari saya terbangun karena rasa sakit dan mual di perut. Oh my god, masuk angin ini sangat menyiksa!

Akhirnya hari itu pun saya hanya tidur 1 jam saja, dari jam 12 tengah malam ke jam 1 dini hari.

Yup, kelelahan pendakian 12 jam yang teramat sangat, hanya dibayar dengan 1 jam memejamkan mata! Bukan tidur, hanya memejamkan mata!

 

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *