Demokrasi Semu

Mengendarai sepeda motor tua, aku melaju meliuk-liuk di tengah kemacetan ibukota Jakarta yang panjang mengular. Di satu sisi mengutuk panasnya hari ini, tapi di sisi yang lain aku bersyukur awan mendung tidak menampakan dirinya. Karena kalau sampai hujan turun, kota yang rawan banjir ini akan menjadi musuh bagi sepeda motor tua kesayanganku ini.

Aneh memang. Mengapa ketika kota ini dari hari ke hari semakin tidak layak untuk dijadikan tempat tinggal, masih saja ada orang yang tahan untuk mendiaminya. Bahkan setiap tahunnya selalu ada saja orang yang dengan nekatnya mencari peruntungan di kota ini. Mungkin jawabannya sama seperti yang aku miliki : tuntutan hidup.

Jika saja ada alat yang bisa kembali ke masa lalu, ingin rasanya menasehati para pendahulu yang memiliki ide bodoh menyatukan pusat pemerintahan, pusat administratif, dan juga pusat perniagaan di dalam satu daerah/kota.

Bagaimana tidak? Dari ratusan ribu kota yang tersebar di belasan ribu pulau di Nusantara ini, mengapa semua itu disatukan dalam sebuah kota kecil bernama Jakarta?

Tapi ya seperti orang bijak berkata : masa lalu hanya dapat dijadikan pelajaran bagi kita yang hidup di masa sekarang.

******

Oh ya, perkenalkan namaku adalah Bento.

Ya aku tahu, ketika kalian mendengar nama itu pasti kamu akan langsung teringat musisi kawakan negeri ini yang gemar menciptakan lagu sindiran atas kondisi sosial bangsa . Tapi izinkanlah aku untuk meyakinkan kalian bahwa aku tidaklah seperti sosok Bento yang ada di dalam lagu tersebut. Sungguh berbeda 180 derajat.

Jangankan rumah mewah, kendaraan pun hanya sepeda motor tua ini saja. Mungkin satu-satunya yang dapat kubanggakan adalah organisasi dimana sekarang ini aku bekerja atau mungkin lebih tepatnya disebut mengabdi. Yaitu sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM/NGO) yang bergerak di bidang pemantauan dan pemberantasan korupsi.

Organisasi yang didirkan olehku ini adalah bentuk perlawanan diriku dan kawan-kawan yang memiliki keprihatinan yang sama atas kondisi bangsa ini.

******

Saat ini aku dalam perjalanan memenuhi undangan organisasi mahasiswa di kampusku dulu. Tak lain dan tak bukan untuk memberikan  presentasi dan pemaparan dalam sebuah diskusi seminar tentang korupsi. Perjalanan menuju kampus perjuangan ini membuat memori-memori lama kembali kedalam ingatan. Mulai dari hal yang remeh temeh seperti percintaan, akademis, sampai hal yang serius soal negeri ini.

Bisa dibilang generasiku dulu adalah generasi emas yang beruntung.

Bagaimana tidak? Saat itu aku bersama teman-teman di kampus perjuangan ini mampu menjatuhkan penguasa tirani yang telah memimpin bangsa ini lebih dari 30 tahun lamanya. Ya kami menumbangkannya secara paksa. Walaupun dengan beberapa pengorbanan nyawa rekan-rekan mahasiswa dari kampus lainnya.

Tank dan panser kami lawan. Desingan suara peluru timah panas kami hiraukan. Darah dan nyawa kami pertaruhkan.

Berhari-hari perjuangan kami lakukan. Gedung DPR/MPR akhirnya dapat kami duduki. Dan kini negeri ini dapat merasakan buah manis dari perjuangan itu semua.

Namun undangan diskusi seminar ini menjadi titik refleksi bercermin bagiku. Rasa hampa tiba-tiba menyeruak di dalam dada.

Harus diakui buah manis berupa demokrasi yang kumaksud tadi, hanyalah satu dari sekian banyak cita-cita kami saat menumbangkan rezim itu dahulu. Hati nurani yang terlalu bersih ini tidak dapat berbohong untuk mengakui kegagalan aku dan rekan-rekanku dalam mengawal reformasi.

Pahit memang, tapi itulah kenyataannya.

Masih teringat dengan jelas pemberitaan di media massa beberapa bulan lalu yang menyebutkan masyarakat berada di titik kekecewaan yang terendah terhadap pemerintahan yang sekarang. Bahkan hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa masyarakat menilai rezim Orde Baru yang dulu kami tumbangkan, masih jauh lebih baik dibandingkan kondisi saat ini.

Beberapa tulisan dan pendapat ahli lainnya menyebutkan bahwa negara ini sedang menuju sebuah kondisi yang dinamakan failed state (negara gagal). Betapa mengerikannya istilah itu.

Ini menjadi tamparan yang sungguh menyakitkan bagi diriku dan juga rekan-rekanku sesama aktivis. Perasaan bingung, bersalah, dan kecewa tidak bisa ditutupi. Aku tahu bahwa ini adalah fakta yang memang terjadi saat ini. Dan aku yang memiliki sebuah LSM, tahu benar bobroknya negeri ini.

Demokrasi memang tercipta di negeri ini. Tidak ada lagi teror dari dwifungsi ABRI yang hilang bersama tumbangnya sang penguasa tirani. Pers dan warga sipil juga tumbuh menjadi alat kontrol sosial di masyarakat.

Namun ketika melihatnya lebih dalam lagi, sesungguhnya negeri ini terjebak kedalam, kalau boleh aku namakan : ersatz democratism (demokrasi semu). Istilah yang aku ambil dari tulisan Yushihara Kunio yang saat itu berpendapat bahwa kapitalisme yang sedang tumbuh di Asia bukanlah sepenuhnya kapitalisme yang murni. Kapitalisme semu atau ‘ersatz capitalism’.

Demokrasi ini negeri ini juga sama. Semu. Saat pemilihan umum pertama kalinya dilakukan secara demokratis dahulu, semua orang terlarut dalam euforia berlebihan. Partai-partai politik tumbuh subur bagai cendawan di musim hujan. Otonomi daerah diberikan seluas-luasnya sebagai pengejawantahan demokrasi di daerah.

Tapi lihatlah setelah 10 tahun lamanya kita berusaha membangun sebuah tata negara yang demokratis apa hasilnya?

Ketika hukum bukanlah alat untuk menciptakan keteraturan, tapi sebagai alat bagi kaum tertentu. Ketika korupsi dianggap sebagai hal yang wajar dan biasa terjadi. Ketika pemberian otonomi daerah justru dimanfaatkan untuk memperebutkan kekuasaan guna menguasai pundi-pundi daerah beserta isinya.

Apakah itu tujuan dari demokrasi?

Ya aku tahu kami telah gagal.

Kami seharusnya paham bahwa perubahan yang terjadi akan sangat besar. Ini ibarat sebuah pendulum yang berayun dari titik ekstrem yang satu, ke titik ekstrem yang lainnya. Terlalu banyak yang harus kami tuntut untuk dirubah.

Kami lupa memahami bahwa persoalannya bukan saja menyangkut sang penguasa tirani. Kami lupa memutus mata rantai lengan-lengan gurita sang penguasa tirani yang telah menyebar ke berbagai lini sektor. Kami kurang keras menuntut adanya pemotongan satu generasi di segala sektor pemerintahan bobrok itu.

Akhirnya kami terlalu cepat kembali ke ruang-ruang kelas perkuliahan. Menganggap semuanya akan tuntas dengan sendirinya.

Ketika kami keluar dari kampus perjuangan ini pun, beberapa dari kami banyak yang sudah lupa apa yang pernah kami diskusikan, perdebatkan, teriakan, dan perjuangkan. Beberapa rekan-rekanku tidak sedikit yang awalnya berjanji bersama memperbaiki sistem busuk ini dari dalam. Tapi apa lacur, idealisme mereka terlalu lemah untuk melawan arus besar itu.

*****

Acara sudah akan dimulai dan ruangan telah dipenuhi oleh mahasiswa yang hadir. Hari ini aku melihat wajah-wajah para calon pemimpin bangsa disini. Wajah-wajah semangat yang jelas terlihat penuh dengan idealisme. Memandangi wajah mereka tampak seperti memandang ke arah diri sendiri dan mengingat beberapa rekan seperjuangan dahulu.

Rasa senang kemudian berganti menjadi kesedihan mengingat semuanya.

Maafkan aku kawan, karena di forum ini aku harus membuka semua tentang kalian.

Ya kalian para teman-temanku yang dahulu turun ke jalan bersamaku menyuarakan pemberantasan korupsi, namun kini sedang sibuk membagi-bagi jatah untuk kalian bancak beramai-ramai.

Kalian para sahabat yang dahulu menuntut penguasa bekerja untuk kesejahteraan rakyat, namun kini duduk dan tertidur  pulas atas nama rakyat di kursi dewan terhormat.

Juga rekan-rekan mantan aktivis yang dahulu sering berdiskusi bersama merumuskan ide bagaimana menciptakan sebuah negara yang demokratis secara hakiki, namun kini berada di dalam partai-partai politik sibuk akan urusan mengamankan kekuasaan politik apapun caranya. Lupa dengan apa yang telah kami diskusikan dahulu.

Maafkan aku kawan, karena aku harus mengingatkan mereka untuk tidak menjadi seperti kalian.

*****

Dua jam telah berlalu, indahnya seminar ini. Kini waktunya saya untuk menyampaikan closing statement yang baru saja terpikirkan sepanjang perjalanan menuju ke seminar ini.

“Maafkan generasi kami yang hanya mampu melahirkan demokrasi semu ini. Saatnya tugas kalianlah untuk menyempurnakan demokrasi semu tersebut. Sehingga tercipta negara yang sejahtera dan bebas korupsi.

Jalannya akan sangat panjang dan melelahkan. Jika kalian telah sampai di pucuk pimpinan negara ini. Pegang dan jagalah terus idealisme hati nurani kalian. Dan yang terpeting jangan pernah tergoda untuk kembali ke belakang ke masa lalu, walau para kroninya terus menyuarakan indahnya rezim tirani. Cukup darah dan nyawa generasi kami yang berkorban untuk sebuah istilah penuh makna : demokrasi”

(trl/2011)

———-

dari fundforpeace.org (Index tahun 2016)

Catatan : Tulisan ini dibuat sekitar tahun 2011.  Dulu alur cerita terinspirasi dari obrolan diskusi dengan mantan aktivis 98. Isi tulisan mengkritisi kondisi negara saat itu yang penuh dengan aksi kekerasan. Aksi-aksi kekerasan ini  dilakukan oleh kelompok-kelompok intoleran dan sayangnya dilakukan pembiaran oleh pemerintah. Bukan hanya kondisi sosial tapi juga di berbagai bidang, pemerintahan saat itu (SBY) tidak berbuat apa-apa. Karenanya saat itu muncul istilah ‘negara autopilot’. Negara autopilot yang terancam menjadi sebuah negara gagal. Syukur alhamdulillah pemerintahan berganti. Tahun 2016 peringkat Indonesia turun menjadi 86 semakin menjauh dari kriteria ‘negara gagal’ .

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *