Backpacking ke Gunung Lawu (4) : Terakhir, Explore Tawamangu

Setibanya di Pos Kandang Badak, kami pun segera merealisasikan apa yang menjadi keputusan untuk malam ini yaitu pinjam motor untuk menjelajahi Tawamangu di hari terakhir esok; dan bermalam di hotel yang memiliki fasilitas air panas. Surga dunia menanti!

Motor yang berhasil kami pinjam

Alhamdulillah motor pinjaman kami dapatkan dari salah seorang personil AGL (Anak Gunung Lawu). Thanks bro!

Sekilas mengenai AGL, mereka adalah komunitas anak-anak muda sekitar Pos Kandang Badak yang menjadi pengelola di jalur Kandang Badak ini.

Motor pinjaman sudah didapatkan dan kini saatnya mencari hotel yang memiliki air panas. Sounds really great! Gak sabar untuk segera bebersih dengan air panas dan mengistirahatkan tubuh yang teramat lelah ini.

Singkat cerita, berhubung saat itu longweekend kami pun terpaksa bermalam di sebuah penginapan sederhana. Tak apalah asalkan ada air panas.

Keesokan harinya kami pun bangun pagi hari. Banyak spot destinasi yang harus kami kunjungi di waktu sempit yang tersisa ini.

 

“Tawamangu bagi Solo dan sekitarnya itu seperti Puncak atau Bogor bagi Jakarta”

 

Cetho, Candi Diatas Bukit

Spot pertama yang kami kunjungi adalah Candi Cetho. Perjalanan dari pusat Tawamangu ke Candi Cetho kami tempuh sekitar 30-45 menit dengan naik motor. Disepanjang perjalanan menuju Candi Cetho pemandangan indah tersaji.

Untuk masuk ke Candi Cetho kamu harus membayar HTM sebesar Rp 7,000/orang (WNI) dan Rp 25,000/orang (WNA). Sebelum masuk ke Candi ini pengelola akan memberikan sepasang kain untuk menutupi area pinggang kamu.

Candi Cetho, Tawamangu

Yang menarik dari Candi ini adalah posisinya yang diatas bukit. Sebenarnya yang kami incar adalah momen saat candi ini tertutupi kabut tipis. Aroma mistis, romantis, namun tentunya bukan bau amis akan terasa bila kabut ini muncul. Namun sayangnya kemarin kabut tersebut tidak kami temui. Sepertinya saat itu kami kurang pagi.

Candi ini merupakan candi Hindu peninggalan Kerajaan Majapahit. Arca kura-kura yang ditemui disana menjadi penandanya. Candi Cetho ini memiliki teras yang bertingkat-bertingkat.

Hal menarik lainnya bagi saya adalah bangunan utama yang berada di teras paling atas. Bangunan ini memiliki struktur yang berbeda dari candi-candi yang pernah saya lihat di Indonesia. Bentuknya seperti piramida tak utuh. Trapesium bentuknya. Menarik!

Di area candi ini disetiap terasnya terdapat beberapa bangunan dari kayu. Ada yang diperuntukan menaruh sesajen dan dupa peribadatan, ada juga yang diperuntukan untuk tempat orang bersembahyang dan semedi. Jadi bisa dibilang candi peninggalan kerajaan Majapahit ini sampai sekarang masih digunakan untuk beribadah.

 

Candi Sukuh : Saudara Dekat Candi Cetho 

Persinggahan kami selanjutnya adalah Candi Sukuh. Lokasi candi ini tidak jauh dari Candi Cetho, sekitar 15 menit perjalanan

Keduanya konon memiliki keterikatan satu sama lainnya. Mereka sama-sama bangunan sarat nilai sejarah peninggalan salah satu kerajaan hindu terbesar di Indonesia, Kerajaan Majapahit.

Area Candi Sukuh lebih kecil dari Candi Cetho. Masuk ke area candi ini seperti masuk ke sebuah taman kecil.

Candi Sukuh yang seperti bangunan peninggalan Aztec
Dari atas Candi Sukuh

Satu hal yang menarik di Candi Sukuh ini adalah struktur bangunannya. Sebenarnya struktur bangunannya sama seperti bangunan utama yang berada di teras teratas di Candi Cetho. Itulah mengapa kedua candi ini dikatakan memiliki hubungan ‘kekerabatan’.

Namun ketika melihat bangunan Candi Sukuh inilah saya baru teringat dengan bangunan peninggalan Suku Maya yaitu situs Chichen Itza di Meksiko yang penuh dengan warisan wawasan astronomi dari bangsa Maya. Bangunannya identik alias mirip!

Darisana saya baru bertanya-tanya mengapa Candi Cetho dan Sukuh memiliki struktur bangunan yang mirip dengan peninggalan suku Inca Maya dan Aztec di Amerika sana? Adakah hubungannya diantara mereka? Adakah hubungan antara suku Inca Maya dengan Majapahit? Menarik!

Selain itu yang menarik disini adalah banyak dijumpai arca-arca yang unik. Salah satu yang menarik adalah arca legendaris disini yang menggambarkan kemaluan pria dan wanita. Itulah kenapa beberapa orang mengatakan ini candi erotis.

Hmmmmmmmm….

 

Gemiricik Air Terjun Jumog

Air Terjun Jumog

Setelah puas menjelajahi situs bersejarah, kami pun beranjak ke ke Air Terjun Jumog.

Tinggi air terjun ini memang hanya 30 meter, namun besarnya debit air serta background-nya yang dihiasi tumbuh-tumbuhan hijau memiliki daya tarik tersendiri.

Bagi saya yang paling menarik di Air terjun Jumog ialah disepanjang tepian aliran sungai dari air terjun ini berjejer dengan rapih tikar-tikar yang dapat diduduki oleh wisatawan. Tikar-tikar ini disediakan oleh warung-warung sekitar yang menjajakan makanan dan minuman.

Hari itu yang merupakan hari libur membuat tidak satu pun tikar yang kosong. Menarik memperhatikan keluarga-keluarga yang sedang asyik berpiknik disana. Bersenda gurau, menikmati suguhan makanan & minuman, sambil menikmati gemericik air sungai di sebelahnya dan juga gemuruh air terjun. Beberapa anak kecil turun ke sungai bermain air, sedangkan para orangtua memperhatikan sambil menikmati makanan dan minumannya.

Penataannya yang rapih serta sama sekali tidak terlihat sampah berserakan membuatnya semakin indah dipandang. Semoga kondisi bersih seperti ini terus dijaga oleh pengelola dan tentunya kalian para traveler yang mengunjunginya.

Next time kalau kesini lagi saya harus mencoba menikmati berpikinik disini 😀

 

Megahnya Air Terjun Grojogan Sewu

Air Terjun Grojogan Sewu

Air Terjun Grojogan Sewu merupakan air terjun paling populer di Tawamangu. Sayangnya saat saya berkunjung kemarin, jatuh tepat di hari libur. Longweekend pulak!

Ramai tak terelakan, dipadati oleh wisatawan lokal yang berlibur. Tapi hal ini tidak mengurangi semangat saya untuk menikmati suasana. Ukuran air terjun ini bisa dibilang cukup besar. Ketinggiannya mencapai 81 meter.

Untuk masuk ke air terjun ini dikenakan biaya HTM sebesar Rp 15,000 /Orang (WNI) dan Rp 160,000/orang (WNA).

Sama seperti air terjun Jumog, di dalam kawasan ini terdapat kolam renang publik yang airnya berasal dari air terjun tersebut. Segar!

 

Usai mengunjungi air terjun Grojogan Sewu kami pun mengembalikan motor pinjaman ke komunitas AGL dan lekas beranjak turun ke Solo menggunakan angkutan umum.

Setelah sekian lama ‘puasa’, akhirnya merasakan kembali sensasi traveling dengan konsep backpacking. Nagih!

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *