Backpacking ke Gunung Lawu (3) : Saatnya Turun

Malam pendakian gunung lawu itu menjadi malam penderitaan bagi saya. Badan sangat lelah, namun disatu sisi yang lain badan juga menolak untuk terlelap. Perut terus menerus memberikan siksaan-siksaan yang pedih. Argh!

Pilih Tidur atau Menikmati Sunrise Gunung Lawu?

Jam 2 telah berlalu. Jarum jam ke angka 3 dini hari juga telah terlewati dengan penderitaan yang amat sangat. Hingga sekitar pukul 5, ketika subuh menjelang entah kenapa sakit perut itu menghilang tiba-tiba. Alhamdulillah…!

Fakta bahwa saat itu sebenarnya waktu yang tepat untuk menikmati sunrise, saya hiraukan.

“Masa bodoh sunrise! I need sleep now!”, membatin.

Sekitar 1 jam saya tertidur (Alhamdulillah daripada tidak sama sekali), saya pun keluar tenda untuk menikmati pemandangan. Saya mencoba untuk mencari tau soal sunrise subuh tadi ke beberapa pendaki.

“Mas, gimana sunrise subuh tadi? Bagus?”, tanya saya mencari tau.

“Wah mas boro-boro. Gak keliatan! Cuacanya jelek”, rutuk si pendaki ini.

Mendengar kabar itu umpatan keluar dalam hati.

“See?! Percuma kan tadi malam memaksakan diri camping di Puncak, mending stay di Hargo Dumilah!”, emosi  jiwa meledak

Warung Mbok Yem yang Legendaris

Usai foto-foto di Puncak. Kami pun packing dan turun ke Hargo Dumilah, warung mbok yem. Kurang dari 1 jam kami sudah tiba disana. Ternyata ada banyak pendaki yang tadi malam camping dan bermalam disini.
Setibanya disana, kami masuk ke warung yang legendaris ini, Warung Mbok Yem. Kami memesan nasi pecel yang juga melegenda. Beruntung masuk angin yang tadi malam begitu menyiksa, kini sudah menghilang. Untuk kali ini saya bisa menikmati makanan sederhana ini. Alhamdulillah.
Usai sarapan di Warung Mbok Yem, sebelum kembali turun ke bawah kami pun singgah sebentar di Padang Savana untuk mengambil beberapa foto.

Di area Hargo Dumilah ini sebenarnya ada beberapa tempat yang konon katanya ‘mistis’. Sering dipakai para peziarah yang mencari hal-hal gaib disini. Mulai dari cerita orang-orang yang melakukan persugihan agar kaya, sampai orang-orang yang mencari benda-benda keramat. Hareee genee masih begituan?! Uedan! NGOKS!

Selanjutnya pukul 11.00 WIB kami beranjak turun dari warung Mbok yem.

Dalam perjalanan menuju Pos 4 tiba-tiba turun hujan yang untungnya tidak terlalu besar. Kami pun berteduh sejenak di Pos 4. Sambil menunggu hujan reda kami membuat api unggun dan kopi untuk menghangatkan badan. Dan begitu hujan reda, kami pun melanjutkan perjalanan.

Hujan yang turun saat itu membuat perjalanan turun jauh lebih ‘menyiksa’. Medan trekking yang berupa tanah merah ini telah menjadi jebakan seluncur alami. Salah menapak, terpleset akibatnya.

Belum lagi sepatu yang saya gunakan bukanlah sepatu yang basanya saya gunakan kalau hiking. Saya pilih sepatu trekking yang terbutut yang tersedia di rak sepatu. Sepatu butut dengan cengkraman sol sepatu yang tak lagi berfungsi dan ujung sepatu yang sudah tak nyaman lagi di jari kaki.

Ingat ekspektasi saya soal gunung Lawu bukanlah seperti ini. This is beyond my expectation. NGOKS!!

Akibatnya oleh-oleh perjalanan turun pun saya dapatkan. Luka lecet di jari jempol dan kelingking di kedua kaki. Kuku kaki yang patah akibat tidak potong kuku kaki sebelum trip hiking (potong kuku telah menjadi sebuah kebiasaan yang selalu saya lakukan sebelum traveling apalagi hiking). Juga lumpur dimana-mana akibat terpleset 4x selama perjalanan turun.

“Turun. Sebuah kata yang terdengar indah namun tidak kenyataannya”

Kalau kemarin perjalanan naik membutuhkan waktu 12-13 jam. Kini perjalanan turun membutuhkan waktu 7 jam perjalanan. Kami pun tiba di Pos Cemoro Kandang sekitar pukul 19.00 WIB.

Akhirul kalam dengan segala penderitaan yang timbul akibat kurangnya persiapan sebelum traveling dilakukan, tapi saya tetap bersyukur. Bersyukur alam memberikan cuaca cerah dan suguhan pemandangan indah di hari pertama. Bersyukur bisa mendaki Gunung Lawu dan mencapai puncaknya. Bersyukur mendaki dengan orang-orang yang bersahabat, dan pastinya jauh lebih siap daripada saya. Dan yang terpenting bersyukur saya masih bisa selamat 😀

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *