Akhir Perjuangan Ahok?

Sejak awal saya sudah memperkirakan ini akan menjadi perjuangan panjang yang sangat berat untuk seorang Ahok. Walau dibekali dengan hasil survei kepuasan masyakarat Jakarta yang mencapai 70% lebih, tapi banyak faktor x yang mempengaruhi angka itu bisa melorot jauh. Terlebih dengan kasus menimpanya.

Hasil akhir quick count dari beberapa lembaga survei telah dirilis sore ini, hasilnya menunjukan Ahok harus menyerah di angka sekitar 42%-44%.

Kecewa, tapi itulah hasil yang harus diterima dengan lapang dada.

Namun satu hal yang pasti, angka 42% itu bagi saya sudah menjadi torehan yang luar biasa untuk seorang kandidat yang dihajar dan dihantam dari berbagai sisi. Hantaman yang didapatkan Ahok sesungguhnya jauh melebihi apa yang didapatkan seorang Jokowi saat pemilihan Presiden 2014 lalu.

Bayangkan saja seorang minoritas beretnis tionghoa dan beragama non-muslim, yang didakwa menistakan agama sehingga harus bolak-balik ke persidangan dan karenanya pula (katanya) jutaan rakyat yang terprovokasi turun kejalan. Bukan cuma sekali tapi sampai berjilid-jilid! Seorang Ahok masih mendapatkan angka 42%…?!?!?!!

Bahkan Jokowi yang saat ini merupakan tokoh nasional pemilik elektabilitas tertinggi pun, saya yakin akan dibuat babak belur kalau ia kebetulan seorang beretnis dan beragama minoritas. Ditambah dengan ditimpa kasus serupa. Jangankan menyentuh 40%, 25% pun sudah amat sangat bersyukur. Sad but it’s true.

Tapi lupakanlah awan kelabu mendung yang menutupi Jakarta dan sekitarnya siang hingga sore ini, mari kita ambil sisi baiknya. Sisi baiknya adalah artinya ada 42% warga Jakarta tidak perduli apa agamamu, apa etnismu, dan apa warna kulitmu hok. Yang mereka pedulikan adalah seorang Ahok sudah berbuat banyak hal yang positif untuk Jakarta!

Banyak hal kemajuan Jakarta yang telah dirasakan oleh masyarakat jakarta. Dan itu akan menjadi sebuah standard prestasi yang sungguh amatlah tinggi, yang harus dicapai oleh sang pengganti : Anies Baswedan.

Apakah seorang Anies Baswedan mampu?
Sejujurnya kalau mengamati program-programnya dan juga melihat orang-orang dibelakangnya, saya agak pesimis seorang Anies akan sanggup. Tapi marilah berikan ruang dan waktu Anies Baswedan untuk bekerja. Biarkan waktu yang membuktikan, let we see. (tunggu tulisan selanjutnya mengenai Anies yaa!)

Sesungguhnya bukan hanya warga Jakarta saja yang merasakan positifnya. Sama seperti Jokowi Effect di tahun 2012 lalu, Ahok Effect juga beberapa tahun ini dirasakan oleh kami warga dari daerah lainnya. Ya, kami yang iri akan kemajuan Jakarta, berani menuntut para Kepala Daerah kami untuk mewujudkan hal yang sama untuk daerah kami masing-masing. Kami menuntut perbaikan birokrasi yang super lelet, kami menuntut keterbukaan dan transparansi, kami menuntut hilangnya prilaku koruptif di pemerintahan daerah.

Jika menyerah dengan kepala daerah yang sekarang, setidaknya kami mematok standard yang tinggi untuk pemilihan selanjutnya. Jawa Barat, i’ll fight for you! For Ridwan Kamil!

Jadi pertanyaan kembali lagi : Apa ini akhir perjuangan Ahok?

Ya untuk cakupan DKI Jakarta, tapi untuk Indonesia? I don’t think so.

Jika telah selesai urusan di persidangan kasus penistaan agama, sepertinya tak perlu menunggu waktu lama untuk dirinya ditarik ke pemerintahan Jokowi saat ini. Peranan yang lebih besar menunggumu disana hok! Sambil menunggu 2019 😀

Kalau boleh saran ke Pakdhe Jokowi, geser Menpan RB yang sekarang, biarkan Ahok melibas habis birokrasi-birokrasi payah di daerah-daerah.

God bless you hok! Tetap pegang teguh idealisme-mu, tetap berbakti dan berkarya untuk Indonesia! #TerimaKasihAhok

-19 April 2017 | 5.15 PM-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *